Kamis, 21 Agustus 2008

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

Selamat Pagi Lamongan

I
aku yang letih itu
menggores ladang kota;
saat aku saat laut
langit
jiwa
dan lamongan, meledak
(untuk kesekian kali dalam hayalku)

II
"selamat pagi lamongan"
kita nikmati sepiring tahu campur
ataukah soto
bersanding secangkir kopi
dan surat kabar hari ini
di meja sarapan:
saban bertemu kita

mengenang selalu nyanyian sajak
dan tiupan seruling
melambai sampai muara sungai,
o, adakah sukma kan damai
di tubuh takdir?

ah, ini adalah sapaan anggrek di pagi buta
di taman depan rumah.
adalah pengembaraan yang teduh
seusai mengikis rindu bulan nan ungu.

Lamongan, 2004



Lamongan

lewat celah cakrawala
aku telah membuka
matahari
terlelap diantara rumahrumah sunyi
dengan burung gagak di atasnya.

ohoi,
namai kesaksian ini atas waktu
hampir mati
genggam menuju entah;

pada seluruh ruang sublim bagi jiwa
bagi kemungkinan terburuk sekalipun.
ada yang mengintai di halaman rencana
mengurai isyaratisyarat kelicikan
namun esok, kita musti merebut sekali lagi
kenyataan lamongan ini
yang lunglai menangisi tahuntahun
kecemasan.

Lamongan, 2005



Pangkur
kagem: kanjeng sunan drajat

sebuah maqam bertandang dalam sukma.
sukma lain dalam syahadat
eksistensinya

“tidakkah kematian raga
dikuburkan oleh drajat saat lampau.
kelak ia hidup kembali”
disukmakan nisan
memanggilmanggil sukma
maqam demi maqam.

kita basuh sebutir air ke bening doa
kita memanjat pilinan waktu ke 7 saf tangga
kita menepi dalam Bismillah:

maqam itu tetembang
torehan daun pintu
dari wujud taubat.

(adalah sayap roh
menarikan air mata
melebur cermin jasad
murnikan intaian para wali
dan gending syahadat
melambai dan sayup
mocopat dahaga di segenggam debu
dan rahasia angin
sampai keheningan langit)

“aku akan kembali ke bukan maqamku
ke gairah cahaya bersenjata sunyi keluh akarakar”

ini keagungan di antara detik dan kurun
berakhir dalam kelebat sukma
atau keasyikan asmorodono
damai dalam pohon perjanjian.

satu rayu, maqam dan kafan
hembus pahatan angin
pada nisan
dari jasad dan drajat

(sebuah simbol upacara pembumian
untuk tahu kemana kita pergi
ke ayat gaib, sementara
langit lepas gemulai hening)

maqam,
alam diri kita
dalam kekosongan tasik cahaya
beduk metamorfosis
pada kepastian yang sama
kelut sinaran
drajat di nisan doa.

Lamongan, 2005



Kehendak Pengingkaran

seorang ibu menolak melahirkan anaknya
sebagai manusia baru
atas kehendak peradaban
zamannya
menjadi sekedar timbunan
dari sekian manusiamanusia rongsok
dari bayangbayang
kehidupan yang rapuh.

seorang ibu telah menenggelamkan
anaknya
dalam api
dalam pegingkaran.

Lamongan, 2000



Nelayan

Ia
nahkoda bagi jiwaku
tuan atas nasibnya sendiri.

Tuan
kitalah nelayan
engkau perompaknya.

Lamongan, 2001



Candra Kirana

kita akan pergi ke negeri malam negeri tak berjejak
dari sebuah mimpi yang jauh
menyadarkan atas rembulan
dengan secerca purnama

selalu kita menajamkan gerimis
jiwa yang tak tertangkap
dalam percik senyawa;
sebagai tarian etnis
mematangkan pijakan peradaban
kebudayaan

dan kita masih mendengar gerimis
di luar jendela semakin menderas
mandikan tubuh yang rindu,
maka merdekalah jiwa
yang dirangkum dalam kekhusukan
kenaifan


"entah, dapatkah kita tangkap
rembulan bersayap dengan liarnya"

sementara
senyum yang kita simpan
tengah merampungkan hujan di pelataran
sekaligus gelak tawa anakanak dalam
bingkai kanvas musim ini
berlukiskan
segugus peristiwa dan kenangan
dan kita membicarakannya dalam dialog
penuh warna dengan kearifan.

Lamongan, 2005



Naga Harihariku
: apologi untuk namaku

bila api adalah naga
aku naga bagi hariharimu
jadi bumi jadi angin
menggulung segala arah
sepanjang gerak lautan gugus bintang

sebuah utusan dan pesan
harus berakhir di awang
uwung tak berujung jejak
adalah darah yang menghentak
dalam bayang aksara yang redam

akulah nyala darah
menancapkan akar tubuh
menjadi naga dalam hitungan
gemetar daundaun dalam debar cahaya

kutoreh sebersit namaku pada tanah
jawa yang kini hilang gerak
kedalam rahim yang kosong.

o, aku merayapi jemari waktu
yang terhempas dari diriku
pada akar lautan
daratan
matahari
yang tertidur tanpa nama.

Lamongan, 2005



Kali Lamong

ini sungai mengalir membilas tepian sejarah
meraba celah bebatuan yang dahaga.
dari mana sungai mengalir
dan akan mengalir?
selain bermuara keheningan.

“mari bersemadi seperti matahari,
disini gairah segerah dipadamkan”

ketika air
ketika palung sungai yang hampa
memanggil semburat wajahmu.

duh, seruas wajah menggeliat
terpilin pusara waktu
membawanya tengadah ke wajah langit,
dan di sebrang sungai itu
tibatiba wajahmu menjulur
menjadi saksi keberzamanan

sehelai rumput ataukah padi
bergetar hebat menantang angin yang riuh
di sehampar padang rindu yang sangsi
di peradaban semakin purba.

sementara bocaboca telanjang mengarungi
jeram riciknya
dengan sorai nyanyian
dengan rumbaian dan tambang
ingin membangun jembatan.

Lamongan, 2006



Brumbun

pusara yang purba:
(angin memporandakan daundaun jati
kemudian tersesat di balik bukit barisan)

duhai, bermandi nyanyi batu kapur
di lembah
nan ngarai.

sehangat panorama sahaja
membasuh wajah di bening telaga
pada setiap sukma yang merindu

sungguh,
telah ku simak segenap cinta
telah ku jumpa semburat kekasih

(pada percik pertapaan sebuah mitos
yang terus mengaliri zaman)

“tapi, hening dan terasing
pada setangkub brumbun jiwaku”

Lamongan, 2004



The Lamongan Soul

lamongan lagilagi bersandar
pada pilarpilar rongsok
pada seonggok batu akik tak bertuah

:sekian namanama dijual dan diludahkan
menjadi kotoran keranjang sampah.

lamongan adalah kedok bagi
kebebasan jiwa
kaum banci
homo
dan lesbian

maka matahari menjadi teror bagi waktu
meletakkan permainan dalam celana kolor
dan kita memainkannya tanpa aturan
permainan yang tak seorangpun menang
permainan tanpa kata tanpa batas ujungnya

(dan tak seorangpun berani membuka topeng
di hadapan wajah mereka sendirisendiri)

adalah batubatu waktu
mengucapkan kata pembuka
namun tak sanggup menembus ruang hampa
sketsa langitlangit hitam putih.

o, semua hilang dalam keheningan
katakata tanpa bayang
bahasa
kebenaran telah luluh lantak
kejujuran hancur lebur pada nisan
ya, lamongan adalah perkabungan bagi jiwa
bagi anaknya.

Lamongan, 2006



Kuasa Lamongan

awalnya sekedar peta usang dan selembar kalender yang kita bagi
dan kita menempuh jalan masingmasing yang samasama kita yakini
tapi dipersimpangan lamonganlah melahirkan
kita kembali dalam satu kuali
dan siapapun tak ber hak atas siapa

tapi biarlah
jantung
nadi
darah
dan napas kehidupanku
menyempurnakan
denyut kehidupanmu

lamongan ini milikmu
tak usalah kita berbagi.

Lamongan, 2003



Cemeti

I
lamongan adalah samenanjung karang
diterpa gelombang, menggulung hantaman
tak habishabis
menerbangkan mata angin

adalah pelayaran kabut
dari rimba
peradaban bayangbayang
sebab jamjam telah memutar
perjalanan detak nadi ke sepi samudra
kesaksian:

segugus peristiwa yang melambai
dalam segenap percik kesadaranku
di gerak napas kehidupan.

II
dari kabut, lamonganku tumpah dan muara
menggulung abad kerinduan
jejak dalam peta aksara daun lontar.

terpaksa harus ku telan lamongan
dari segenap sejarah yang mengalir
dari berbagai penjuru:

bagai matahari, mata air
rimbun pohonan
:ada yang musti tercambuk
dalam kemelut sejarah kelam

III
demi tuhan: lamongan adalah mimpi lindur
yang gelayutnya tiada kunjung usai
dan jelas kusaksikan pada suatu malam
dari tempat tidurku:

lamongan
tengah memasuki gerbang peradaban
penuh batu
ketersesatan di hutanhutan
dan binatang buas lagi liar
menahan lecut demi lecut cemeti
menertawai nestapa airmata
dan belenggu kemusyrikan
yang menjerat segala langkah.

IV
akulah itu yang memanggilmanggil disegenap rumah
dalam kesejarahan tanah lapang
suatu kota yang kau puja.

di sini, denting gemerincing laut
larut direnggut sunyi
atau derai demi derai padi yang tak sanggup lagi
aku tangkap pada angin
dan cakrawala pengembaraanku.

ada yang musti lepas bersama debu dan kobaran api.
:iblis atas hati ini sahabatku!

V
demi tuhan
perkenankanlah aku
melecutkan cemeti dengan gemulai
beranikan diri merangkum metamorfosis
lantaran aku lamongan!

Lamongan, 2005



Engkau Telah Terlupa
bagi: erie

engkau kini menapaki fajar, erie
atas nadanada yang dahulu saat kecil
sempat kau simpan antara guguran gerimis
dan mimpi; masih saja aku mengingatnya

"di lamongan aku tidak bisa
menemukan masa depan"

begitu ujarmu sambil tersenyum
lantas engkau menutup pintu
berkemas meninggalkan potret masa kecil
dan vas bunga
di dinding pagi, di teras rumah.

sungguh, sepeniggalmu
menyisakan luka sunyi
dari nyanyian yang sempat engkau usung
di pentas kotamu
yang murung

dan sekarang,
bila sekali saja engkau mengingat
kota kelahiranmu
dari balik kedip lampu jakarta

padamkan ia
sebab, engkau telah sampai
di suatu alamat
yang engkau sendiri tak tahu dimana.

engkau telah terlupa erie!

Lamongan, 2004



Nuansa Samudra

di atas laut pada suatu tanjung kodok
kita saling berkaca
dan wajah kita bercakap sepi
(sesepi buih)
adalah biru gelombang
menuntaskan sejarah
menjadi nuansa samudra.

duh,
siapa di balik pelayaran van der wijck
di ini lamongan
di hening samenanjung

(dan sisasisa tenggelamnya).

akulah gelombang itu
mengekalkan wajah laut tak bercamar
di kisaran karang dan pasirpasir
menggelisahi debur waktu

akupun debur waktu:
diam gelisahkan gelombang
yang mungkin masih tersisa
pada ambang kota
yang baru saja kita tinggalkan.

Lamongan, 2004



Sebuah Muara Sejarah

sebuah tempayan di kepala perawan
kembali hampa
o, kembali matahari padam
dan rembulan terkapar di rimbun pohonan

"getah kembali tumpah semalam
di hampar sebuah peperangan"

pohonpohon saling bisikan embun
bahkan menggerai seribu gerak
bayangbayang
melambai

sebab hempasan nafas
memanggil sekujur kesaksian

di ini senja di pembuluh kelam belantara
mari membakar lilin sendirisendiri
sampai wajah
sampai terang jejak ke jejak

(sebuah perjalanan kemerdekaan
membawa rembulan kembali
ke medan langit)

duh, bertetes hening sebuah sejarah
meratapi pohonan ditimpah kobaran api
siapa berani menelannya!

Lamongan, 2004



Kesangsian

memenjarakan angin pada akarakar pohon
yang batangnya mengelupas
dan ranting dan daun
yang dihempaskan

layaknya mengusung jiwa hening di tengah kota
menyerahkan kesangsian
seutuhnya
bersama mimpi
kegaiban

sampaisampai, tubuhku koyak
ditengah perjalanan usia kotaku
yang dahulu menggenggam
segala biru

ah, lampu kotaku
berapa sudah menikamku tajam
melukai batin yang hampa

sementara mata ini menitikan
kesunyian debudebu,
sehening embun yang luruh
di daun pagi
yang juga dihempaskan.

Lamongan, 2005



Dilema

Lamongan
menyodorkan segenap makhluk
pada pengembaraan yang sumir

tanah yang disana kita berdiri
tidak mengistimewakan siapapun;

maka sesuatu yang murni
dan menopang kitalah
yang menuntaskan sang dilema.

kita sebenarnya tidak lebih intim
dengan lamongan
kecuali bahwa kita lebih binatang;
bergairah dengan kebebalan.

mari,
lebih sesekali dari kehidupan itu sendiri
lebih matahari.

Lamongan, 2005



Onggokan Sekejap Debu

kita berada dalam jedah waktu
antara
gresik
bojonegoro

terhuyung oleh bayangbayang
naga api dan ringkik kudakuda besi
seperti onggokan sekejap debu
pada kaki cahaya
dinginnya tak tersentuh

kita menggigil dalam sendiri
dalam untaian legam jemari
wujud dengan mata yang selalu lapar
menyerawang jengkal ketakutan.

Lamongan, 2002



Gerbong Pembebasan
:di stasiun lamongan

sebuah kereta pada suatu
perjalanan
menegurku
dengan gerbong penuh lobang

"mungkinkah
ini sekedar pembebasan
akan gemuruh waktu
diusung sepanjang stasiun
stasiun peradaban
dengan kesangsian"

sementara itu aku lunglai
di ujung rel
memukulmukulnya
memainkan suara
sesal sendirian.

Lamongan, 2002



Kepada Kesangsian

kita telah bicara kepada sebatang pohon
yang terbakar dalam gigil udara

udara memusar
memusar yang remukkan
katakata

dibatas sangsi
sangsi kita menyerpih tanpa suara
suara yang lenyap
tepat di tengah gulungan samudra
di ulu hati
maharani.

Lamongan, 2000



Melati Dari Fantasi Kecilku
:kepada anakanak yang dibesarkan jalanan

terimalah serumpun melati
dari fantasi kecilku;
semalam aku petik dari mimpi yang harum
yang tumbuh dari bijibiji debu jalanan

terimalah
lantaran melati kian merambat
di sekujur peradaban yang kering

ia adalah roh untuk hari esok
jika saja romansanya tidak di hempas
angin kehidupan yang culas

maka untailah ia
sebagai penghias pelaminan
menemani hari bahagiamu
sekedar menuai rindu yang ungu.

Lamongan, 2003




Pintu Air

/1/
“kita bendung pintupintu air semacam wadok gondang!”
kemudian menjelma arus saling hempas dan tenggelamkan
jiwa sendiri
di pintu air berabad sejarah
mengetuk bening yang semakin terlupa
lamongan
abad air
ricik keterasingan

/2/
lamongan seketika ringkih, hilang sebagian usia
yang pernah sekali waktu berjejar di meja perjamuan
di ruang ngobrol
sekarang mewujud reliefrelief
sombong
menelanjangi keprawanan kota
memulangkan pasar peradaban.

Waktu
hampir mati di kekosongan udara pagi yang tergesa
pulang kesuatu sejarah ditinggalkan
dan kita tak kuasa membendungnya.

/3/
lantas hendak kemana
angin
menyempurnakan peradaban
dalam tarian laut dalam debur ombak

dan nafas pantai
sedang keasingan dermaga merampungkan pertautan langit
terperangkap
matahari.

Lamongan, 2005



Lakilaki Tua Dan Becaknya

aku menyaksikan sendiri
lakilaki tua itu terjungkal dari becaknya
lantaran arakarakan polisi bermotor
mengangkangi jalan raya
memainkan klakson dan sirene
(ada juga yang pakai pentungan)

mengiring mobilmobil kijang berwarna
biru tua, berpelat merah berseri
berkecepatan tinggi.

lakilaki tua itu nyaris menangis
didapatinya
becak yang kumal itu; semakin ringsek!
kakinya tergores dan berdarah
keningnya berwarna biru kemerahmerahan

sungguh
lakilaki tua itu menahan duka yang berat
dan aku tak sanggup untuk tidak menangisinya.

Lamongan, 2000



Tentang Dendam

aku kelak kau tangkap
dalam misterimu
dalam hentakan sangat kerasnya

"akulah memukul roboh hotel
bertingkat itu"

tentang dendam
yang tak pernah kau mengerti
tentang samenanjung jiwa
di samudra sunyi

kepada tanah kelahiranku
harusnya kau tangkap juga
kristal mata ini
yang berpuluh tahun merangkum kenangan
kesejarahan
menjadi pantai nestapa

gelombang dan waktu kelak meringkus
segala
saat kita tidak lagi berdamai
dengan semesta akar jiwa sendiri
maka apa kan abadi
mengalir jauh keluar diri ini
jiwa agung lamongan kita.

Lamongan, 2004



Boom Bali

bali pada puncak teror boom
indonesia terkini
adalah kafe, hotel dan pantai

waktulah itu
dalam suatu ledakan sunyi
menyapa galungan
sebuah keheningan yang menyerupai kebutaan
pagi;
legian kala itu

aku di lantai paling bawah
aku di dalam kafe
bergayut pada pasirpasir waktu
menyerpih gelombang kuta
aku menyaksikan gelombang berderu dari pantai
suara gemerincing gelasgelas alkohol
dan logamlogam dan kaca yang beradu

"ada sesosok tubuh mencabikcabik sendiri
meledakkan serpih namanama membabi buta"

siapa dipersimpangan memilih ketersesatan
menuntun kalender mencuri hariharinya
dalam rongga kenangan

mengantongi bayangbayang ngeri
anak negeri
aku mengutukmu?….

Lamongan, 3 September 2005


Tentang Penyair

Javed Paul Syatha. Lahir dan besar di (kota soto + tahu campur) Lamongan, 12 Maret 1983. Nama sebenarnya (Saiful Anam Assyaibani) Berkarya sejak tahun 2002. Aktivitas keseniannya berada di Teater Roda, Sanggar Simurgh, Forum Sastra Lamongan, Kostela dan Teater Pelajar “AUM” MA. Matholi’ul Anwar Simo. Karya-karyanya berupa naskah drama, puisi, esai, cerpen, terpublikasikan di berbagai media cetak pusat dan daerah.

Beberapa puisinya juga terdokumentasi dalam antologi komunal: Imajinasi Nama (Kostela 2003), Permohonan Hijau (Festival Seni Surabaya 2003) terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur, Bulan Merayap (DKL 2004), Lanskap Telunjuk (DKL 2004), dan Rinai Sukma (Teater Mata ES 2005) Dengan nama Ifoel Mundzuk. Juga di antologi Puisi Malsasa (FSB 2006), Absurditas Rindu (SastraNesia, 2006), Khianat Waktu (DKL 2006), Memori Biru (DKL 2007) Malsasa (FSB 2007), Kepada Mereka Yang Katanga Dekat Dengan Tuhan “Generasi Mutakhir Penyair Jawa Timur” (Balai Bahasa Surabaya 2007). Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim 2007). Dan Kristal Bercahaya Dari Surga (LA Rose 2008).

Antologi tunggalnya “Tamasya Langit” (2007). Sekarang tinggal di Kompleks Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Jl. KH. Sofyan Aw. No. 99. Simo Sungelebak 16/V Karanggeneng (62254) Lamongan.

Hp. 085646206854. e-mail: javed_paul@yahoo.co.id.
http//www.forum-sastra-lamongan.blogspot.com




Read More......

Puisi-Puisi Sufistik Javed Paul Syatha

MUQADIMAH

menyapa-mu
aku aus
di dekap takdir

sampaikan salam ini pada lapis langit
jelmakan rintik hujan yang melebur segala kata
membingkis risalah magis kalbu
biar segala keheningan mengantarku

assalamu’alaikum bapa
aku datang sebagai anjing
berpijak di kegelapan purna
dan aku mencari jejakku di bulan
pada hijrah pada tubir mi’raj

biarkan hanya sunyi dalam keheningan jiwaku
seperti denting doa tak kumengerti
makin kalap kurapalkan
sunyilah menandaskan detik air mata
di tetes waktu

dari sendiri kau datang tanpa rupa dan bentuk
kau menjelma bukan cahaya dalam ketakberjasadanmu
wadag yang akan meleburkanmu dalam tafsir hijabku
o, kebekuan jiwa
terjebaklah pada wadagku yang nian absurd
menamaimu!

Lamongan, 2007


MUNAJAD

belum sempat ku eja puisi senjamu
daun kering tibatiba rontok di latar
rumahku yang penuh debu
seperti kau telah menyapaku
di selembar helaian itu

kekasih
gelap ini
kugenggam
munajad
serapuh
ranting
hati
dan embun yang basah
bertasbih
tanpa wadag
aku yang sesungguhnya

kunukil seayat malam
dari hati yang kosong
dalam menemu bayangku
bayangmu yang teduh
semisal amsal
doa yang ku curi
dari cinta
yang tak mengenal
batas dzikir
menujumu

aku menziarahimu
kekasih
dalam rindu yang utuh
dalam napas yang terhunus
dari sukmahku yang hening.

Lamongan, 2005-2007



RISALAH CINTA

… izinkan aku mengecup keabadianmu
dengan segala hikayat cinta

bunda
teduh wajahmu adalah kiblat adalah ka’bah
dimana wajahku kuhadapkan kutundukkan
dalam kesyahduan sujud

duhai, menatapmu adalah perjamuan dalam berkah
engkau membimbingku dalam jejak menuju syurga

bunda
setiap butir air mata yang kau teteskan untukku
dalam doa dalam cinta dan harap
adalah untaian tasbih
dalam napas dzikirku

“allahummaghfirli dzunubii wa liwaalidayya
warhamhuma kama rabbayaanii shaghiraa”

bunda
engkaulah sungai yang mengalir itu; telaga bagi nabi.

Lamongan, 2008



BIARKAN

... untukmu agamamu
dan untukku, agamaku

/1/
biarkan lilin itu tetap menyala di jiwa
bukan nu bukan md bukan pula ahmadiyah
biarkan salam itu tetap terucap
bukan amarah
biarkan lautan menampung gerimis
bukan celah mengulur kemarau

/2/
adakah senyap pada pergeseran musim
menyasatkan keyakinan demi keyakinan
dalam setiap doa seorang hamba

adakah kitab suci belum menepikan arti
adakah agama kan kau akhiri di sisi sangsi
sedang tuhan kita masih menjadi
sebuah rahasia bagi para nabi
nabi palsu.

Lamongan, 2008



LANGIT BERMATA SENJA

Tawassulku
ular pemangsa perih
jasad dan mimpi purbaku
syurga nan senyap

tuhanlah yang kucari;
o
kutuk
aku
lebih
dari
keheningan
iblis
lebih
dari
api
hingga adam masa silam

wahai langit bermata senja
kuraih bianglala tubuhmu
kujelmakan
doa sepanjang ular.

Lamongan, 2006-2007


MENGGAMBAR JEJAK PASIR

menatap laut bersama kelam
di samudra batin yang sirna

aku selalu setia pada kedalaman laut
yang selalu mengajariku tentang kesabaran
sampai
ujung
mata

nelayan menjaring hujan dan badai
angin yang menghasut kesunyian

aku tak bernafas
sesaat
berjabat ombak
matahari
begitu sunyi
pagi
di tengah biru
air laut
mengantar nelayan
menjadi pasir
bagi hatiku

aku nelayan itu
bukan nabi
yang menggambar jejak
pasir putih.

Lamongan, 2006-2007



BENING LANGIT HENING

menggodog matahari ke dasar laut
menggarami langit dalam kepak cahaya

aku bening
langit hening
maka remuklah burung terbang
dihisap angin yang menyiksa

maka benarlah
jejak kita semakin panjang
kita mainkan
antara asin laut dan hampa langit
kau lukai hariku
dan aku mengepungmu dalam diam

maka adakah
ini masih saja sebuah rahasia
yang kau sublimkan

musti pada akhirnya tubuhku akan sirna tak teraba
bersama kilau doadoa yang memancar matahari
bersama kering laut

tubuhmu
tubuh kita
berlabuh.

Lamongan, 2006-2007


MIMPI PURBANI

menjilati lumut kesunyian
mimpiku
kesementaraan
kematian
yang tak pernah nyata

hanya mimpi
mengekalkan suntuk doa dalam gelap
yang abadi
hanya ada dalam mimpi
karena kesepian lebih purba
dari keabadian

mimpilah sirna
dari angin yang lebih sesat
dari jejak kelahiran
di beranda mimpi
tubuhku kuminta kembali
karena langit
bukan tempatku
berdiam.

Lamongan, 2006-2007



DE JAVU

kenangku pada senja
meliukkan lilin yang terbakar
labirin waktu

mungkin ingatanku tertidur panjang
tentang risalah hidup
ataukah jejak sekawanan mimpi
yang kau kirim pada kesunyian
lorong jiwa yang begitu sunyi

aku
seperti pernah mengenangmu
sebuah cermin terbias segurat
bayang matahari

ada cerita yang sama
sehabis
daun gugur pagi kemarin

bukan semayam mimpi
menghampar sebait do’a
tapi kisah itu mewujud kilasan
bayang semesta
hanya aku yang tau
diselembar waktu
sebabak cahaya ataukah luka
tengah bermain dengan realitas
kesadaranku tentangMU.

Lamongan, 2006-2007



SECANGKIR SEPI

hanya sepi tersaji
lantas aku
segala yang luruh
dan angin kembali terhunus
atas beku nafasmu
hitam

bersamamu
aku diam menepi
segala
yang datang
telah pergi
lunaskan hikayah tak terurai
laiknya secangkir sepi
pada peribadatan
seonggok embun perjamuan

hatimu hening
seperti titik cahaya tanpa persemayaman
mencari segala altar
mendoa
segala yang datang dan pergi darimu

jiwajiwa melesat jadi gerimis
menjadi angin dan tanah
menjadi kutub

sekadar secangkir sepi
lantas aku
segala yang luruh
dan angin kembali menggores
atas beku nafasku
keluh.

Lamongan, 2005



ANGIN YANG MENULIS PINTU

bila kau tangkap aku dalam napas
hanyalah sedikit napas yang membakar
doa malamku
api
bulan yang menyala dalam hati
lantas kurenangkan di bening telaga

kuciptakan malam di tubir bukit
bersama
gagak
dan anjing
cinta dan
sesat
seperti surga
dan
dusta

telah
kukirim
selembar
angin
yang
menulis
pintu

dzat
yang agung
yang bertahta di altar cinta
karena kekasihmu lebih tinggi
dari kekasihku yang sunyi.

Lamongan, 2006



PUITIKA PURNAMA WAKTU

di atas laut
di hari ketika malam menghempas
waktu diantara celah langit dan bunga karang

buihbuih menepi menggoreskan mata pena
di pasir angin:

- aku pintu menghadap laut
deru gelombang yang sanggup menghempas
1000 purnama

wahai purnama yang tenggelam dalam cahaya
akulah menghapus jejak luka
mengalir teramat panjang
menyayat langit
menjadi gumpalan udara

sungguh
aku telah menyebrangi lorong berderu itu
melenyapkan diri dalam riuh puisipuisi
menjemput rembulan dari celah cakrawala
retak
menjadikan puitika purnama waktu yang berpijar;

meski rerontok
sunyi sesayap zirah
luruh di tangan laut
menjadikan serpihan cahaya;
tempat pengekalan terhadap
matahari matahati.

Lamongan, 2006



METAMORFOSA SUATU LANGIT

jiwajiwa kering itu diterbangkan angin;
adakah tangantangan tak kasat mata
mengantarnya pada darah
cinta di ketinggian mencari cahaya
(dan tak dapat dimaknai hakikatnya)

jiwajiwa itu mengering terlalu cepat
menyangkal jasad tak bersalah
melayang di atas pengingkaran ruang cosmos
menjumpaiku pada kebisuan kebekuan yang menggigil

“duh, apa yang ku ingin di ketinggian sana?
bukankah ini kerinduan telah lama aku benci
pada setiap jejak pengembaraan mencari diri”

o, aku mengutuk waktuku yang hilang
menandai kematian hari
seperti burung bangkai
betapa letih aku menyayat tubuhku sendiri
di ketinggian; metamorfosa suatu langit.

aku cemburu pada formalin
pada virus paling menakutkan
aku cemburu pada tanah, pada air
dan batubatu
aku cemburu pada telinga yang tak mendengarku
aku cemburu pada ketinggian yang terbuka
pada gerimis yang membebaskan matahari.

astaga, apa aku ini!
menghujat langit hari esok
mematahkan sayapsayap burung terbang
menjadi teror menjadi badai
bagi pohonpohon pegunungan.

“hai, siapa menjaga keagungan harapan tertinggiku”

Lamongan, 2006



BENTUK YANG JUGA TAK BERBENTUK

Engkau mungkin tidak mengerti apa yang mengalir dalam samudra hati adalah gelombang fikir yang terlalu cepat menghempas dan menyeret bahkan menenggelamkan diri sendiri sebagai sesuatu yang tak berbentuk.

Mari berenang mengarungi laut sepanjang muara dalam bentuk yang juga tak berbentuk; mengantar matahari dengan keriangan cahaya yang membakar adalah pengetahuan dalam pengetahuan untuk merasuki kebenaran

Engkau tidak senang kekasih, merasai matahari bergulingan di dadamu. maka padam engkau membuyarkan cahaya dirimu sendiri ke luar matahari; dan sesuatu yang tak berbentuk yang berbeda menanti kembalinya matahari itu

Maka inilah cerita mengenai apa yang seharusnya kau lihat dalam pemahaman batin dan oleh karenanya menjadi tiada. kecuali…

Setelah ini kehidupan akan melepaskan segala nama dan tubuh lenyap tanpa sisa, menjadi cerita tentang cinta di sepanjang jalan yang pernah terlewati tanpa hakikat dan kehendak sesungguhnya; penuh sampah kefanaan. o, hampalah aku.

Lamongan, 2006



AKULAH CAHAYA

Bagaimana aku menangkap matahari yang tak terlihat yang melampaui segala cahaya; sedang aku bersama cahaya itu sendiri menjadi matahari menjadi satu titik pandang terjauh, menjadi jiwa bagi perjalanan tanpa batas.

Akulah menyelamatkan kebenaran dari jejak gerhana yang bersekutu pada pengembaraan mencari cahaya. O, kebajikan. Kalian tidak bisa menciptakan kebajikan, karena akulah kebenaran yang berkehendak menyingkap kebenaran itu sendiri.

Hai! keberadaan yang melampaui ketiadaan yang mula, aku bermurah hati dalam keberadaanmu yang tinggi. Akulah di rumah sucimu, kekasih sebagai petanda pandangan segala sesuatu yang tidak diketahui yang tersembunyi dan segala misteri menjadi tampak. Akulah dalam bahasa kebenaran membebaskan kebenaran dari perwujudan kebenaranmu, aku ada bersamasama dalam kebenaran; telah menegaskan penyebab dari segala sebab.

Matahari adalah sebuah muara dari aliran cahaya yang sangat kemilau dari segala waktu yang tertulis dalam jasad semesta. Inilah makna yang kusembunyikan itu dari penciptaan dan wujud tentang esensi yang tak terbatas; tapi siapa pencari telah mencapai ke segala suatu temuan!.

Duhai, aku kabarkan kefasihan yang indah, yang tiada dungu peroleh hakikat kebenaran dan keagungan. Dan engkau yang lenyap dari penerbangan engkau tidak akan menemukan jalan cahaya, engkaulah keterasingan itu; wahai pesakitan jiwa yang tak terselamatkan terjerembaklah engkau di hamparan pasir.

Lamongan, 2006



GNOSIS
:meditasi ke kesunyian

Sekali lagi aku bersaksi atas wujudku sendiri; menafikan semua yang berbentuk meniadakan aku dalam wadah yang tetap ada; ada pada suatu dan satu waktu. Aku juga berada di atas setiap bentuk yang menyatu yang bertentangan.

“Lihatlah kedip lilin di tengah semesta itu aku telah merubahnya menjadi matahari!” maka semua musti terbuka kerana tak ada ruang yang mampu mewadahi cahaya tak terhingga ini. adalah hati yang kugenggam di sandaran kekasih menempuh perjalanan kepada tujuan pencarian.

Aku datang kekasih, tanpa jalan tanpa arah. selain dari wujud menuju wujud ke dalam kesatuan penyaksianku” sampai pada inilah seluruh cahaya berebut menyatukan hasrat diri ke suatu pusatku.

Ohoi, perjalanan ini aku mulai dengan penarikan diri dari dunia kebendaan, mengosongkan kekuatan rasa di jiwa kepada segala sesuatuku, dan aku melihat semua sebagaimana hakikat sendirinya: seperti tercermin dari wujud yang melenyapkan kesadaran dan makna semesta. aku pusat alam raya dan roh dari yang mutlak dunia yang mewujud melupakanmu.

Lamongan, 2006



LAZARUS

Pesan itu masih tersembunyi dalam setiap bentuk, aku coba membuka dan menyerukannya kembali tapi sama saja engkau tak kan memahaminya. “Sebab aku adalah penciptaan maka ini isyarat terbaik untuk menemukan rahasia dalam pencarian. ya, melaluiku tuhan akan mengenalkan dirinya atau menjadikan dirinya di kenali”.

Waktu? tidak, aku tidak pernah mengenal waktu. Akulah bercerita tentang langit itu yang tak pernah kau mengerti karena kau bukan apaapa. sedang aku telah melampaui setiap jalanan dari kebenaran cinta sekaligus pengingkaran diri; pengingkaran akan penglihatan keyakinankeyakinanku. “tunggu saja aku akan membakar rumah ibadahmu saat kau lengah dan aku akan berkata kepadamu bahwa api itulah simbul kebenaran sesungguhnya. akan ku ajarkan hakikat api setelah kau melihat cahaya yang memancar dari nyalanya, dan kau akan mencapai capaian tertinggi tentang kebenaran yang meyakinkan, karena kau sendiri yang akan menelan api itu”.

Akulah yang tampak dari yang tersembunyi dari gerak kedalam diri dari tubuh atau bentuk melalui jiwa ke pusat yang terdalam; dari esensi yang berada diantara keliling dan pusat lingkaran, ke roh atau rahasia pusat kesadaran yang merupakan keterpautan antara aku dan dia.

Segera aku akan keluar dari bentuk kemanusiaan ini, dari rahasia bathin yang mengantar kesadaran akan makna ritusritus sesembahan.

Lamongan, 2006



DEMI WAKTU

Apa yang kau pikir tentang aku selama ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh waktu; keberadaan itu pencapaian di perjalanan waktu melampaui waktu; aku memang ada di jalanku sendiri, namai keadaan dengan penyerahan sesuatu yang memang seharusnya ada tapi tak terlihat, maka siapa menemui duniaku disana tidak bersembunyi dari jejakku, maka jejakjejak itu akan mengantarnya sendiri pada kabar mencapai kebenaran penempatan wajah tertinggi; demi waktu aku milikmu demi aku waktumu milikku.

Adakah kata kan disekat pembatas yang nyata sedang waktu sendiri adalah bahasa akhir melepaskan segala kehidupan.

Ini waktu bukanlah kebohongan, adalah yang menandai batas yang kau pikirkan: siapa melewatinya dengan pandangan kebenaran.

Lamongan, 2006



POETRY OF ABSOLUTION
:bagi kaum pemurtad dan berhala

Tentang kehidupan terasing ini; aku menangkap manusiamanusia di sekitarku tak lain adalah kesiaan, begitupun aku. Inilah kehidupan paling aneh yang pernah aku rasakan; kehidupan seakan karya fiksi atau sajak gelap yang tak ada maknanya, selain duka sekaligus kekecewaan paling aniaya.

Dengan menciptakan kehidupan seperti ini, bukankan tuhan ingin mengingkari eksistensi diri di luar dirinya? sungguh takdir yang aneh yang pernah aku pikir. Bukankah aku adalah penderitaan sekaligus ketidakberdayaan yang pernah diciptakan tuhan dengan imajinasi yang cerdas sekaligus kegilaannya? Maka aku tidak begitu saja percaya akan diriku sendiri akan harapanharapan yang pernah aku impikan di ujung langit sekalipun. Oleh karenanya aku hanya mendengar rasa yang selalu mengajakku bicara tentang bagaimana menghadapi kehidupan dengan segala ketenangan, lalu aku dengan sekujur kehidupan yang pongah menembusi warnawarna kabut akan kehidupan yang lain dan aku berjalan sebagai manusia yang siapapun bisa melihatnya dengan jelas.

Ya, akulah kejujuran tentang diriku sendiri tentang kehidupan yang rongsok ini. Aku menemukan tuhan untuk langit dan bumi, tapi bukan untuk aku yang membuang penghormatan dan makna bagi syurga. sungguh, tidak ada alasan lain untuk kehidupan selain pengingkaran akan kematian.

Telah aku terima segala nestapa menembusi temboktembok pengembaraan, menerbangi langit, merontokkan daun cahaya, tertatih menyeret sekujur tubuh masuki kehidupan absolut; ini jalan pintas sesungguhnya telah lama aku bangun, maka lihatlah jejakku dari wujud terima kasih itu: aku bingkis untuk kaum pemurtad dan berhala.

O, aku selalu sakit ketika bercerita tentang kerinduan kepadamu tuhan, tapi setidaknya aku telah jujur pada diriku sendiri membenci sesuatu yang aku anggap pantas untuk dibenci tentang lipatan idealogi dan zaman yang gelap yang pernah menjadi menara di kubangan paling menakutkan: tentang hayalan, keimanan dan kesangsian menjadi segugus dosa.

Aku sekarang menutup mataku secara berlahan sejenak melupakan segala, hanya hati yang memanggil kepada tubuhku sendiri; tubuh yang selama ini tergadaikan pada kepercayaan hayalanhayalan yang melampaui keyakinankeyakinanku.

Sungguh, aku tidak akan pernah berdamai dengan semesta pikiranpikiranku sendiri. kelak aku akan antusias sekali menghadapi kematian.

Lamongan 2006


SESAYAP KUNANG

Kunangkunang yang terjerat dalam tanah belantara, hendak menuju matahari. Tapi sayap yang ia pakai untuk terbang telah terlepas dari tubuhnya sebelum mencapai matahari.

Merambatlah kunangkunang di tanah belantara, ia kehilangan arah di tengah pohon keluarga. Semua jalanan buntu bahkan jejakjejak yang membawa kembali kepada perjalanan telah lenyap, tidak ada jalan keluar bagi kunangkunang yang tersesat.

Meski matahari pagi sendiri menghapus segala ketidakmungkinan kunangkunang untuk pulang ke suatu rimbanya. “duhai matahari; karena kebenaran tidak pernah terbang begitupun aku” teriak kunangkunang dalam ketidakberdayaannya ketika sangat merindu matahari.

Dan kunangkunang tidak pernah keluar dari tanah belantara dan kunangkunang tetap dalam dirinya.

Suatu masa ia terbang karena dirindu matahari sendiri; meski dengan tanpa sayap.

Lamongan, 2005

Read More......