MUQADIMAH
menyapa-mu
aku aus
di dekap takdir
sampaikan salam ini pada lapis langit
jelmakan rintik hujan yang melebur segala kata
membingkis risalah magis kalbu
biar segala keheningan mengantarku
assalamu’alaikum bapa
aku datang sebagai anjing
berpijak di kegelapan purna
dan aku mencari jejakku di bulan
pada hijrah pada tubir mi’raj
biarkan hanya sunyi dalam keheningan jiwaku
seperti denting doa tak kumengerti
makin kalap kurapalkan
sunyilah menandaskan detik air mata
di tetes waktu
dari sendiri kau datang tanpa rupa dan bentuk
kau menjelma bukan cahaya dalam ketakberjasadanmu
wadag yang akan meleburkanmu dalam tafsir hijabku
o, kebekuan jiwa
terjebaklah pada wadagku yang nian absurd
menamaimu!
Lamongan, 2007
MUNAJAD
belum sempat ku eja puisi senjamu
daun kering tibatiba rontok di latar
rumahku yang penuh debu
seperti kau telah menyapaku
di selembar helaian itu
kekasih
gelap ini
kugenggam
munajad
serapuh
ranting
hati
dan embun yang basah
bertasbih
tanpa wadag
aku yang sesungguhnya
kunukil seayat malam
dari hati yang kosong
dalam menemu bayangku
bayangmu yang teduh
semisal amsal
doa yang ku curi
dari cinta
yang tak mengenal
batas dzikir
menujumu
aku menziarahimu
kekasih
dalam rindu yang utuh
dalam napas yang terhunus
dari sukmahku yang hening.
Lamongan, 2005-2007
RISALAH CINTA
… izinkan aku mengecup keabadianmu
dengan segala hikayat cinta
bunda
teduh wajahmu adalah kiblat adalah ka’bah
dimana wajahku kuhadapkan kutundukkan
dalam kesyahduan sujud
duhai, menatapmu adalah perjamuan dalam berkah
engkau membimbingku dalam jejak menuju syurga
bunda
setiap butir air mata yang kau teteskan untukku
dalam doa dalam cinta dan harap
adalah untaian tasbih
dalam napas dzikirku
“allahummaghfirli dzunubii wa liwaalidayya
warhamhuma kama rabbayaanii shaghiraa”
bunda
engkaulah sungai yang mengalir itu; telaga bagi nabi.
Lamongan, 2008
BIARKAN
... untukmu agamamu
dan untukku, agamaku
/1/
biarkan lilin itu tetap menyala di jiwa
bukan nu bukan md bukan pula ahmadiyah
biarkan salam itu tetap terucap
bukan amarah
biarkan lautan menampung gerimis
bukan celah mengulur kemarau
/2/
adakah senyap pada pergeseran musim
menyasatkan keyakinan demi keyakinan
dalam setiap doa seorang hamba
adakah kitab suci belum menepikan arti
adakah agama kan kau akhiri di sisi sangsi
sedang tuhan kita masih menjadi
sebuah rahasia bagi para nabi
nabi palsu.
Lamongan, 2008
LANGIT BERMATA SENJA
Tawassulku
ular pemangsa perih
jasad dan mimpi purbaku
syurga nan senyap
tuhanlah yang kucari;
o
kutuk
aku
lebih
dari
keheningan
iblis
lebih
dari
api
hingga adam masa silam
wahai langit bermata senja
kuraih bianglala tubuhmu
kujelmakan
doa sepanjang ular.
Lamongan, 2006-2007
MENGGAMBAR JEJAK PASIR
menatap laut bersama kelam
di samudra batin yang sirna
aku selalu setia pada kedalaman laut
yang selalu mengajariku tentang kesabaran
sampai
ujung
mata
nelayan menjaring hujan dan badai
angin yang menghasut kesunyian
aku tak bernafas
sesaat
berjabat ombak
matahari
begitu sunyi
pagi
di tengah biru
air laut
mengantar nelayan
menjadi pasir
bagi hatiku
aku nelayan itu
bukan nabi
yang menggambar jejak
pasir putih.
Lamongan, 2006-2007
BENING LANGIT HENING
menggodog matahari ke dasar laut
menggarami langit dalam kepak cahaya
aku bening
langit hening
maka remuklah burung terbang
dihisap angin yang menyiksa
maka benarlah
jejak kita semakin panjang
kita mainkan
antara asin laut dan hampa langit
kau lukai hariku
dan aku mengepungmu dalam diam
maka adakah
ini masih saja sebuah rahasia
yang kau sublimkan
musti pada akhirnya tubuhku akan sirna tak teraba
bersama kilau doadoa yang memancar matahari
bersama kering laut
tubuhmu
tubuh kita
berlabuh.
Lamongan, 2006-2007
MIMPI PURBANI
menjilati lumut kesunyian
mimpiku
kesementaraan
kematian
yang tak pernah nyata
hanya mimpi
mengekalkan suntuk doa dalam gelap
yang abadi
hanya ada dalam mimpi
karena kesepian lebih purba
dari keabadian
mimpilah sirna
dari angin yang lebih sesat
dari jejak kelahiran
di beranda mimpi
tubuhku kuminta kembali
karena langit
bukan tempatku
berdiam.
Lamongan, 2006-2007
DE JAVU
kenangku pada senja
meliukkan lilin yang terbakar
labirin waktu
mungkin ingatanku tertidur panjang
tentang risalah hidup
ataukah jejak sekawanan mimpi
yang kau kirim pada kesunyian
lorong jiwa yang begitu sunyi
aku
seperti pernah mengenangmu
sebuah cermin terbias segurat
bayang matahari
ada cerita yang sama
sehabis
daun gugur pagi kemarin
bukan semayam mimpi
menghampar sebait do’a
tapi kisah itu mewujud kilasan
bayang semesta
hanya aku yang tau
diselembar waktu
sebabak cahaya ataukah luka
tengah bermain dengan realitas
kesadaranku tentangMU.
Lamongan, 2006-2007
SECANGKIR SEPI
hanya sepi tersaji
lantas aku
segala yang luruh
dan angin kembali terhunus
atas beku nafasmu
hitam
bersamamu
aku diam menepi
segala
yang datang
telah pergi
lunaskan hikayah tak terurai
laiknya secangkir sepi
pada peribadatan
seonggok embun perjamuan
hatimu hening
seperti titik cahaya tanpa persemayaman
mencari segala altar
mendoa
segala yang datang dan pergi darimu
jiwajiwa melesat jadi gerimis
menjadi angin dan tanah
menjadi kutub
sekadar secangkir sepi
lantas aku
segala yang luruh
dan angin kembali menggores
atas beku nafasku
keluh.
Lamongan, 2005
ANGIN YANG MENULIS PINTU
bila kau tangkap aku dalam napas
hanyalah sedikit napas yang membakar
doa malamku
api
bulan yang menyala dalam hati
lantas kurenangkan di bening telaga
kuciptakan malam di tubir bukit
bersama
gagak
dan anjing
cinta dan
sesat
seperti surga
dan
dusta
telah
kukirim
selembar
angin
yang
menulis
pintu
dzat
yang agung
yang bertahta di altar cinta
karena kekasihmu lebih tinggi
dari kekasihku yang sunyi.
Lamongan, 2006
PUITIKA PURNAMA WAKTU
di atas laut
di hari ketika malam menghempas
waktu diantara celah langit dan bunga karang
buihbuih menepi menggoreskan mata pena
di pasir angin:
- aku pintu menghadap laut
deru gelombang yang sanggup menghempas
1000 purnama
wahai purnama yang tenggelam dalam cahaya
akulah menghapus jejak luka
mengalir teramat panjang
menyayat langit
menjadi gumpalan udara
sungguh
aku telah menyebrangi lorong berderu itu
melenyapkan diri dalam riuh puisipuisi
menjemput rembulan dari celah cakrawala
retak
menjadikan puitika purnama waktu yang berpijar;
meski rerontok
sunyi sesayap zirah
luruh di tangan laut
menjadikan serpihan cahaya;
tempat pengekalan terhadap
matahari matahati.
Lamongan, 2006
METAMORFOSA SUATU LANGIT
jiwajiwa kering itu diterbangkan angin;
adakah tangantangan tak kasat mata
mengantarnya pada darah
cinta di ketinggian mencari cahaya
(dan tak dapat dimaknai hakikatnya)
jiwajiwa itu mengering terlalu cepat
menyangkal jasad tak bersalah
melayang di atas pengingkaran ruang cosmos
menjumpaiku pada kebisuan kebekuan yang menggigil
“duh, apa yang ku ingin di ketinggian sana?
bukankah ini kerinduan telah lama aku benci
pada setiap jejak pengembaraan mencari diri”
o, aku mengutuk waktuku yang hilang
menandai kematian hari
seperti burung bangkai
betapa letih aku menyayat tubuhku sendiri
di ketinggian; metamorfosa suatu langit.
aku cemburu pada formalin
pada virus paling menakutkan
aku cemburu pada tanah, pada air
dan batubatu
aku cemburu pada telinga yang tak mendengarku
aku cemburu pada ketinggian yang terbuka
pada gerimis yang membebaskan matahari.
astaga, apa aku ini!
menghujat langit hari esok
mematahkan sayapsayap burung terbang
menjadi teror menjadi badai
bagi pohonpohon pegunungan.
“hai, siapa menjaga keagungan harapan tertinggiku”
Lamongan, 2006
BENTUK YANG JUGA TAK BERBENTUK
Engkau mungkin tidak mengerti apa yang mengalir dalam samudra hati adalah gelombang fikir yang terlalu cepat menghempas dan menyeret bahkan menenggelamkan diri sendiri sebagai sesuatu yang tak berbentuk.
Mari berenang mengarungi laut sepanjang muara dalam bentuk yang juga tak berbentuk; mengantar matahari dengan keriangan cahaya yang membakar adalah pengetahuan dalam pengetahuan untuk merasuki kebenaran
Engkau tidak senang kekasih, merasai matahari bergulingan di dadamu. maka padam engkau membuyarkan cahaya dirimu sendiri ke luar matahari; dan sesuatu yang tak berbentuk yang berbeda menanti kembalinya matahari itu
Maka inilah cerita mengenai apa yang seharusnya kau lihat dalam pemahaman batin dan oleh karenanya menjadi tiada. kecuali…
Setelah ini kehidupan akan melepaskan segala nama dan tubuh lenyap tanpa sisa, menjadi cerita tentang cinta di sepanjang jalan yang pernah terlewati tanpa hakikat dan kehendak sesungguhnya; penuh sampah kefanaan. o, hampalah aku.
Lamongan, 2006
AKULAH CAHAYA
Bagaimana aku menangkap matahari yang tak terlihat yang melampaui segala cahaya; sedang aku bersama cahaya itu sendiri menjadi matahari menjadi satu titik pandang terjauh, menjadi jiwa bagi perjalanan tanpa batas.
Akulah menyelamatkan kebenaran dari jejak gerhana yang bersekutu pada pengembaraan mencari cahaya. O, kebajikan. Kalian tidak bisa menciptakan kebajikan, karena akulah kebenaran yang berkehendak menyingkap kebenaran itu sendiri.
Hai! keberadaan yang melampaui ketiadaan yang mula, aku bermurah hati dalam keberadaanmu yang tinggi. Akulah di rumah sucimu, kekasih sebagai petanda pandangan segala sesuatu yang tidak diketahui yang tersembunyi dan segala misteri menjadi tampak. Akulah dalam bahasa kebenaran membebaskan kebenaran dari perwujudan kebenaranmu, aku ada bersamasama dalam kebenaran; telah menegaskan penyebab dari segala sebab.
Matahari adalah sebuah muara dari aliran cahaya yang sangat kemilau dari segala waktu yang tertulis dalam jasad semesta. Inilah makna yang kusembunyikan itu dari penciptaan dan wujud tentang esensi yang tak terbatas; tapi siapa pencari telah mencapai ke segala suatu temuan!.
Duhai, aku kabarkan kefasihan yang indah, yang tiada dungu peroleh hakikat kebenaran dan keagungan. Dan engkau yang lenyap dari penerbangan engkau tidak akan menemukan jalan cahaya, engkaulah keterasingan itu; wahai pesakitan jiwa yang tak terselamatkan terjerembaklah engkau di hamparan pasir.
Lamongan, 2006
GNOSIS
:meditasi ke kesunyian
Sekali lagi aku bersaksi atas wujudku sendiri; menafikan semua yang berbentuk meniadakan aku dalam wadah yang tetap ada; ada pada suatu dan satu waktu. Aku juga berada di atas setiap bentuk yang menyatu yang bertentangan.
“Lihatlah kedip lilin di tengah semesta itu aku telah merubahnya menjadi matahari!” maka semua musti terbuka kerana tak ada ruang yang mampu mewadahi cahaya tak terhingga ini. adalah hati yang kugenggam di sandaran kekasih menempuh perjalanan kepada tujuan pencarian.
Aku datang kekasih, tanpa jalan tanpa arah. selain dari wujud menuju wujud ke dalam kesatuan penyaksianku” sampai pada inilah seluruh cahaya berebut menyatukan hasrat diri ke suatu pusatku.
Ohoi, perjalanan ini aku mulai dengan penarikan diri dari dunia kebendaan, mengosongkan kekuatan rasa di jiwa kepada segala sesuatuku, dan aku melihat semua sebagaimana hakikat sendirinya: seperti tercermin dari wujud yang melenyapkan kesadaran dan makna semesta. aku pusat alam raya dan roh dari yang mutlak dunia yang mewujud melupakanmu.
Lamongan, 2006
LAZARUS
Pesan itu masih tersembunyi dalam setiap bentuk, aku coba membuka dan menyerukannya kembali tapi sama saja engkau tak kan memahaminya. “Sebab aku adalah penciptaan maka ini isyarat terbaik untuk menemukan rahasia dalam pencarian. ya, melaluiku tuhan akan mengenalkan dirinya atau menjadikan dirinya di kenali”.
Waktu? tidak, aku tidak pernah mengenal waktu. Akulah bercerita tentang langit itu yang tak pernah kau mengerti karena kau bukan apaapa. sedang aku telah melampaui setiap jalanan dari kebenaran cinta sekaligus pengingkaran diri; pengingkaran akan penglihatan keyakinankeyakinanku. “tunggu saja aku akan membakar rumah ibadahmu saat kau lengah dan aku akan berkata kepadamu bahwa api itulah simbul kebenaran sesungguhnya. akan ku ajarkan hakikat api setelah kau melihat cahaya yang memancar dari nyalanya, dan kau akan mencapai capaian tertinggi tentang kebenaran yang meyakinkan, karena kau sendiri yang akan menelan api itu”.
Akulah yang tampak dari yang tersembunyi dari gerak kedalam diri dari tubuh atau bentuk melalui jiwa ke pusat yang terdalam; dari esensi yang berada diantara keliling dan pusat lingkaran, ke roh atau rahasia pusat kesadaran yang merupakan keterpautan antara aku dan dia.
Segera aku akan keluar dari bentuk kemanusiaan ini, dari rahasia bathin yang mengantar kesadaran akan makna ritusritus sesembahan.
Lamongan, 2006
DEMI WAKTU
Apa yang kau pikir tentang aku selama ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh waktu; keberadaan itu pencapaian di perjalanan waktu melampaui waktu; aku memang ada di jalanku sendiri, namai keadaan dengan penyerahan sesuatu yang memang seharusnya ada tapi tak terlihat, maka siapa menemui duniaku disana tidak bersembunyi dari jejakku, maka jejakjejak itu akan mengantarnya sendiri pada kabar mencapai kebenaran penempatan wajah tertinggi; demi waktu aku milikmu demi aku waktumu milikku.
Adakah kata kan disekat pembatas yang nyata sedang waktu sendiri adalah bahasa akhir melepaskan segala kehidupan.
Ini waktu bukanlah kebohongan, adalah yang menandai batas yang kau pikirkan: siapa melewatinya dengan pandangan kebenaran.
Lamongan, 2006
POETRY OF ABSOLUTION
:bagi kaum pemurtad dan berhala
Tentang kehidupan terasing ini; aku menangkap manusiamanusia di sekitarku tak lain adalah kesiaan, begitupun aku. Inilah kehidupan paling aneh yang pernah aku rasakan; kehidupan seakan karya fiksi atau sajak gelap yang tak ada maknanya, selain duka sekaligus kekecewaan paling aniaya.
Dengan menciptakan kehidupan seperti ini, bukankan tuhan ingin mengingkari eksistensi diri di luar dirinya? sungguh takdir yang aneh yang pernah aku pikir. Bukankah aku adalah penderitaan sekaligus ketidakberdayaan yang pernah diciptakan tuhan dengan imajinasi yang cerdas sekaligus kegilaannya? Maka aku tidak begitu saja percaya akan diriku sendiri akan harapanharapan yang pernah aku impikan di ujung langit sekalipun. Oleh karenanya aku hanya mendengar rasa yang selalu mengajakku bicara tentang bagaimana menghadapi kehidupan dengan segala ketenangan, lalu aku dengan sekujur kehidupan yang pongah menembusi warnawarna kabut akan kehidupan yang lain dan aku berjalan sebagai manusia yang siapapun bisa melihatnya dengan jelas.
Ya, akulah kejujuran tentang diriku sendiri tentang kehidupan yang rongsok ini. Aku menemukan tuhan untuk langit dan bumi, tapi bukan untuk aku yang membuang penghormatan dan makna bagi syurga. sungguh, tidak ada alasan lain untuk kehidupan selain pengingkaran akan kematian.
Telah aku terima segala nestapa menembusi temboktembok pengembaraan, menerbangi langit, merontokkan daun cahaya, tertatih menyeret sekujur tubuh masuki kehidupan absolut; ini jalan pintas sesungguhnya telah lama aku bangun, maka lihatlah jejakku dari wujud terima kasih itu: aku bingkis untuk kaum pemurtad dan berhala.
O, aku selalu sakit ketika bercerita tentang kerinduan kepadamu tuhan, tapi setidaknya aku telah jujur pada diriku sendiri membenci sesuatu yang aku anggap pantas untuk dibenci tentang lipatan idealogi dan zaman yang gelap yang pernah menjadi menara di kubangan paling menakutkan: tentang hayalan, keimanan dan kesangsian menjadi segugus dosa.
Aku sekarang menutup mataku secara berlahan sejenak melupakan segala, hanya hati yang memanggil kepada tubuhku sendiri; tubuh yang selama ini tergadaikan pada kepercayaan hayalanhayalan yang melampaui keyakinankeyakinanku.
Sungguh, aku tidak akan pernah berdamai dengan semesta pikiranpikiranku sendiri. kelak aku akan antusias sekali menghadapi kematian.
Lamongan 2006
SESAYAP KUNANG
Kunangkunang yang terjerat dalam tanah belantara, hendak menuju matahari. Tapi sayap yang ia pakai untuk terbang telah terlepas dari tubuhnya sebelum mencapai matahari.
Merambatlah kunangkunang di tanah belantara, ia kehilangan arah di tengah pohon keluarga. Semua jalanan buntu bahkan jejakjejak yang membawa kembali kepada perjalanan telah lenyap, tidak ada jalan keluar bagi kunangkunang yang tersesat.
Meski matahari pagi sendiri menghapus segala ketidakmungkinan kunangkunang untuk pulang ke suatu rimbanya. “duhai matahari; karena kebenaran tidak pernah terbang begitupun aku” teriak kunangkunang dalam ketidakberdayaannya ketika sangat merindu matahari.
Dan kunangkunang tidak pernah keluar dari tanah belantara dan kunangkunang tetap dalam dirinya.
Suatu masa ia terbang karena dirindu matahari sendiri; meski dengan tanpa sayap.
Lamongan, 2005
Kamis, 21 Agustus 2008
Puisi-Puisi Sufistik Javed Paul Syatha
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar